Minggu, 25 Februari 2018

Prinsip SNA 2008

 17 tahun lebih mengabdi di instansi statistik, bidang neraca dan analisis...
dalam tugas pokok sehari-hari, rasanya tak lepas dari yang namanya neraca
ya..neraca, suatu bagan keseimbangan antara penyediaan dan penggunaan, antara aset dan kewajiban....
dibalik semua itu,
ada kerangka kerja neraca yang menjadi pedoman dalam setiap penyusunan neraca yang ada.
yaitu,....SNA atau System of National Account

Tahun 2009 diterbitkan SNA yang baru, yaitu SNA 2008. SNA inilah yang menjadi pedoman atau dasar dalam penyusunan neraca saat ini....




SNA 2008 atau System of National Account merupakan suatu panduan bagi negara-negara di dunia yang direkomendasikan PBB untuk menyusun neraca-neraca kegiatan ekonomi suatu negara.

Dalam buku SNA 2008 (UN, 2009) :
         System of National Account is a statistiical framework that provides a comprehensive,      
         consistent, and flexible set of macroeconomic account for policymaking, analysis, and research 
         purpose (SNA 2008, Foreword)

SNA 2008 atau Sistem Neraca Nasional (SNN) 2008 merupakan suatu kerangka kerja statistik atau sistem data yang menyajikan suatu set neraca-neraca ekonomi makro secara komprehensif, konsisten dan terintegrasi , yang dapat digunkaan untuk melakukan analisa dan pengambilan kebijakan serta maksud penelitian lainnya.

Komprehensif
Artinya menyeluruh. SNA 2008 bersifat komprehensif artinya, SNA tidak hanya menyajikan kegiatan ekonomi suatu negara secara menyeluruh, tetapi juga merinci kegiatan-kegiatan ekonomi tersebut menurut pelaku-pelaku ekonomi (institusi) yang melaksanakan kegiatan ekonomi tersebut, serta menyajikan berbagai arus transaksi (flows) yang terjadi, yang menghasilkan berbagai kegiatan produksi, konsumsi, dan distribusi. Selain itu SNA juga menyajikan suatu neraca harta dan kewajiban pelaku ekonoi, serta menampilkan neraca yang menunjukkan keterkaitan ekonomi domestik suatu negara dengan luar negeri.

Konsisten
Konsisten memiliki arti tidak berubah atau tetap karena taat azas. Data yang dihasilkan pada suatu neraca ekonomi dalam SNA dengan data pada neraca lainnya konsisten, karena SNA dibangun dengan menggunakan sistem akuntansi yang baku (standard accounting principles) yang sama, konsisten dalam isian pada sis kredit maupun debit, atau pada sisi sumber maupun penggunaan.

Terintegrasi
 SNA bersifat terintegrasi karena neraca-neraca yang disusun dalam SNA mencerminkan semua konsekuensi dan transaksi-transaksi ekonomi yang dilakukan oleh pelaku-pelaku ekonomi di suatu negara secara berurutan.
Neraca dalam SNA disajikan secara berurutan sehingga memberikan sekuen (urutan-urutan) mengenai gambaran kondisi ekonomi makro yang berkesinambungan dari suatu kejadian (neraca) kepada kejadian (neraca) lainnya.

Konsep serta metodologi dalam SNA telah sejalan dengan buku-buku manual lainnya (seperti IMF Balance of Payments Manual dan IMF Government Finance Statistics). Hal ini dimaksudkan karena SNA merupakan suatu kerangka kerja yang mengkoordinasi berbagai statistik ekonomi yang ada.


Evolusi SNA (SNN):
SNA1953  - Kompilasi sederhana mengenai ekonomi dalam tabel-tabel dan neraca dalam harga berlaku (current prices)

SNA 1968 – Sistem neraca yang diperluas, termasuk tabel input-output, prinsip-prinsip umum mengenai harga (prices) dan volume dan neraca-neraca finansial (financial accounts)

SNA 1993 – Memasukkan balance sheets, masalah ketenagakerjaan (employment) dan masalah daya beli (purchasing power parities), serta struktur neraca yang lebih rinci (seperti lebih banyak neraca-neraca ekonomi, lebih rinci mengenai rincian sub-sektor dan supply and use tables yang lebih rinci); bagian yang terpisah mengenai satellite accounts dan flexible adjustments terhadap kondisi perekonomian nasional; serta diskusi rinci mengenai prinsip-prinsip umum mengenai harga (prices) dan volume (seperti chaining and index formulae)

SNA 2008 – Presentasi yang lebih rinci mengenai beberapa topik, seperti neraca pemerintah, sektor informal (informal sectors) dan jasa kapital (capital services) yang penting untuk pengukuran produktivitas.



Sumber : UN 2009, System of National Account 2008
               Sutomo, Slamet, 2015. "Sistem Data dan Perangkat Analisis Ekonomi Makro"


#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe-12

Jumat, 23 Februari 2018

Ekspor, Tiongkok, dan Daya Saing



artikel yang nangkring lama di meja redaksi, dan sepertinya belum layak muat opini media 😉


Ekspor kendaraan tumbuh fantastis. Berita Resmi Statistik Ekspor Impor Jawa Barat Oktober 2017 (BPS Jawa Barat, 4 Desember 2017) menunjukkan ekspor kendaraan dan bagiannya dari Jawa Barat pada Januari-Oktober 2017 tumbuh 135,67 persen (year on year). Jauh diatas pertumbuhan ekspor non migas yang hanya mencapai 21,94 persen. Secara kumulatif Januari-Oktober 2017 ekspor kendaraan dan bagiannya mencapai 3.732,12 juta US$ (fob), periode sebelumnya hanya sebesar 1.581,91 juta US$.
Bagi Jawa Barat saat ini, sedikit saja peningkatan ekspor otomotif akan berpengaruh pada kondisi ekspor secara umum. Kenapa? Karena kontribusi ekspor otomotif dan bagiannya mencapai 15, 58 persen. Terbesar dibanding peranan komoditas utama lainnya.
Jika kita cermati, perjalanan industri otomotif nasional pada akhirnya berkumpul di kawasan seputar Kabupaten Bekasi, Karawang dan Purwakarta,  Jawa Barat. Banyak investasi besar yang ditanamkan pada beberapa pabrikan yang menempati kawasan. Tak hanya mobil dan motor, tetapi juga komponen pendukung keduanya. Keberadaannya menjadikan Jawa Barat sebagai pusat otomotif nasional.
Data BPS juga menunjukkan bahwa kinerja ekspor kendaraan dan bagiannya konsisten meningkat, selain komoditas  mesin/pesawat mekanik, kertas/karton, pakaian jadi bukan rajutan, serta alas kaki. Hal ini tentunya menjadi sinyal positif bagi pemerintah dan pelaku usaha untuk terus menggenjot pertumbuhan industri kendaraan. Apalagi industri kendaraan (alat angkutan) memiliki peranan cukup besar dalam perekonomian Jawa Barat. Pada tahun 2016 industri alat angkutan berkontribusi sebesar 8,18 persen terhadap total PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) Jawa Barat.
Untuk menjaga kinerja otomotif nasional, pelabuhan internasional telah disiapkan di Kabupaten Subang.  Secara lokasi Kabupaten Subang berdekatan dengan tiga wilayah pusat otomotif nasional. Pelabuhan Patimban dipersiapkan menjadi pintu gerbang industri otomotif nasional. Lokasinya dinilai strategis karena dekat dengan pabrik perakitan. Harapannya Pelabuhan Patimban dapat meningkatkan produktivitas industri otomotif dalam negeri dan memacu pertumbuhan ekspor nasional yang lebih tinggi.
Bagaimana dengan pangsa ekspor Jawa Barat? Selama periode Januari-Oktober 2017, pangsa pasar terbesar ekspor produk non migas Jawa Barat adalah Amerika Serikat (17,92%), Jepang (9,80%) dan Thailand (7,48%). Adapun ekspor ke Tiongkok (China, peyebutannya diubah menjadi Tiongkok berdasarkan Keputusan Presiden No. 12/2014 ) hanya mencapai 5,44 persen dari total ekspor non migas. Pada Januari-Oktober 2017 total ekspor non migas ke Tiongkok mencapai 1.302,79 juta US$. Berada pada posisi keempat setelah Thailand, ekspor Jawa Barat ke Tiongkok memiliki potensi dan peluang untuk dikembangkan.
1 Desember 2017 lalu, rencananya Kementrian Keuangan Tiongkok akan memberlakukan pemangkasan tarif bea masuk utnuk 187 kategori barang impor tertutama barang konsumsi. Produk barang konsumsi yang diekspor ke Tiongkok akan mengalami pemangkasan tarif bea masuk dari rata-rata 17,3 persen menjadi 7,7 persen.  Hal ini tentunya menjadi peluang bagi pelaku usaha. Hambatan tarif akan semakin kecil. Eksportir perlu memanfaatkan peluang ini. Walau ini tidak mudah.
Hambatan tarif lebih kecil, namun masih tersisa persoalan lain. Di era perdagangan bebas saat ini, memacu pertumbuhan ekspor hanya dari peningkatan kuantitas tidaklah cukup. Perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas. Kita sadari bersama bahwa sebagian produk dalam negeri masih kesulitan untuk bersaing dengan produk sejenis dari luar negeri. Terutama produk impor dari Tiongkok.
Jawa Barat dibanjiri produk Tiongkok. Bagaimana tidak, impor terbesar dari Tiongkok. Selama Januari-Oktober 2017 nilai impor Jawa Barat dari Tiongkok mencapai 2.517,15 juta US$. Dengan kata lain, sebesar 28,55 persen impor Jawa Barat berasal dari Tiongkok.
Neraca perdagangan non migas Jawa Barat dengan Tiongkok pada periode Januari-Oktober 2017, Jawa Barat mengalami defisit. Tidak hanya terjadi pada periode ini. Selama kurun waktu beberapa tahun ke belakang, selalu defisit. Artinya ekspor kita ke Tiongkok masih lebih rendah dibandingkan impor.
Melihat kondisi tersebut, akan kah Jawa Barat bisa berhenti mengimpor banyak barang dari Tiongkok? Apa yang perlu dilakukan untuk menurunkan defisit?
Perlu dilihat kembali barang apa saja yang selama ini banyak diimpor dari Tiongkok. Faktanya, salah satu komoditas yang banyak diimpor dari Tiongkok adalah buah-buahan! Sebagai wilayah agraris dengan basis pertanian, tentu hal ini sangat menyakitkan bagi Jawa Barat. 
Seperti lingkaran yang tak pernah putus, ketika ingin memacu ekspor (otomotif misalnya), namun di sisi lain perusahaan yang berpangsa ekspor memiliki kecenderungan menggunakan bahan baku impor.Pada kondisi ini, meningkatkan ekspor tentu akan  meningkatkan pula impor. Periode Januari-Oktober 2017, produk impor di Jawa Barat sebanyak 81,09 persen adalah bahan baku/penolong. Adanya ketergantungan impor yang tinggi menjadi salah satu permasalahan industri Jawa Barat. Kondisi inilah yang seringkali mengakibatkan usaha goyah, ekonomi terguncang. Mengurangi ketergantungan impor, harus terus diupayakan melalui penguatan ekonomi lokal. Terus mendorong industri berbasis lokal berjaya di negeri sendiri dan mampu menembus pasar luar negeri. Pekerjaan yang tidak mudah. Perlu kerjasama berbagai pihak dalam mewujudkannya. Perlu kerja keras menurunkan defisit neraca perdagangan dengan Tiongkok, walau tarif bea masuk sudah diturunkan.
Pemangkasan tarif bea masuk impor Tiongkok akankah berpengaruh pada kinerja neraca perdagangan Jawa Barat? Kiranya perlu kajian mendalam untuk menjawab pertanyaan tersebut. Namun yang pasti, karena pemangkasan tarif ini diberlakukan juga untuk semua mitra dagang Tiongkok, maka lagi-lagi disini akan muncul persaingan. Semua sudah paham jika komoditas yang berdaya saing tinggi lah yang akan mampu menembus pasar. Mari bekerja bersama meningkatkan daya saing, melalui peningkatan kualitas dan inovasi produk.***


          #PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
 #HariKe-11

Selasa, 20 Februari 2018

Mengomunikasikan Data Melalui Opini

Menulis, salah satu aktivitas untuk mencurahkan isi hati dengan bebas😋
media mencurahkan isi pikiran, media tempat berlabuhnya ide dan gagasan 😊

yang paling penting, bagi saya menulis adalah.... Bagaimana mengomunikasikan data melalui opini.
Bagaimana kita menyampaikan data yang dihasilkan kepada publik, ya melalui menulis
Menulis opini, memang tidak mudah
Berulangkali tulisan ditolak media
Berulangkali ide tulisan mentok hanya sebagai draf
...memang tidak mudah
dan butuh proses
butuh belajar
terus belajar

dalam proses saya belajar, ada yang istimewa di Sabtu, 17 Februari 2018 lalu...

Kali kedua Seminar Menulis melalui WA Grup #PerempuanBPSMenulis digelar

Seminar sabtu kemarin diisi oleh salah seorang perempuan penulis hebat BPS.
Mbak Tasmilah, dari BPS Provinsi Banten.

Mbak Tas, biasa kami memanggil..memaparkan bagaimana teknik menulis opini
Paparannya sangat runut dan terstruktur, luar biasa...
kalo saya ditanya, pasti susah mengungkapkan dengan kata-kata...
gimana cara menulis opini?
saya pasti bingung jawabnya, karena menulis ya hanya menulis, tanpa struktur dan
tanpa persiapan matang, hehe

Alhamdulillah pada kesempatan itu, mbak Tas berbagi pengalaman yang luar biasa
Berbagi, bagaimana teknis menulis opini. Alhamdulillah, dalam 2 tahun ini 69 tulisan mbak Tas sudah dimuat di berbagai media lokal dan nasional. Prestasi yang sangat membanggakan...

Dalam menulis opini, tahapannya antara lain :
A. Proses Menulis Opini
1 menentukan tema yang aktual,
2. menentukan sudut pandang (angle) atau perspektif .
3. mencari dan menggunakan referensi/rujukan, pendapat para ahli.
4. memulai menulis , memetakan dan mengidentifikasi masalah, membahas permasalahan yang sudah diidentifikasi , sampai membuat konklusi.

B. Menentukan tema Aktual dapat dilakukan dengan cara:
1. Amati berita headline koran-koran utama yang memiliki reputasi baik setiap hari selama 4 hari
2. Amati berita TV berita selama seminggu.
3. Baca situs-situs berita mainstream, seperti kompas.com, detik.com, vivanews.com dll.
4. Ikuti berita yang dimuat berulang selama 3-4 hari.

C. Struktur Tulisan Opini
1. judul
2. Pendahuluan
3. Pembahasan
4. Kesimpulan

atau

1. Judul : Singkat, padat, jelas (3-5 kata)
2. Pembuka (lead) : merupakan kalimat atau paragraf pembuka yang mengajak, menggoda, mengusik pembaca agar terus membaca sampai tuntas.
3. Penjelas (Batang Tubuh)
4. Penutup (ending)

D. Menyusun Alinea
1. Satu alinea biasa mengandung satu pokok pikiran
2. Uraikan inti masalah dengan singkat (3-5 kalimat)
3.  Sifatnya, apakah menanggapi opini orang lain atau mengajukan opini tersendiri?
4. Uraikan pokok pikiran utama (main idea) menjadi beberapa pokok pikiran penunjang/turunan
5. Hubungkan satu alinea dengan alinea selanjutnya dengan jembatan pikiran (bridging) yang kuat
6. Hubungan antar alinea bisa bersifat: kronologis (waktu), spasiologis (ruang), dan kausalitas (sebab-akibat)

E. Pentingnya Data
1. Data penting untuk memperkuat pendapat yang diajukan, apalagi BPS merupakan gudangnya data. Penulis dari BPS diuntungkan dengan ini. tiap bulan BPS selalu merilis data. ini bisa menjadi ide untuk menulis tiap bulan.
2. Referensi penting untuk menunjukkan bahwa semua pendapat yang sama/berbeda sudah dipertimbangkan.

F. Edit
1. Selesaikan draf, apapun bentuknya, tulis aja apa yang ada di kepala sampai bener-bener mentok..
2. Endapkan tulisan awal selama beberapa waktu, cari inspirasi/kesibukan, perhatikan deadline.
3 Tinjau ulang draf awal dan periksa dari segi substansi, struktur argumentai, atau gaya penulisannya.
4. Bisa meminta pendapat atau masukan dari teman sebelum dikirim ke redaksi. 


G. Buatlah Profil menarik
1. Biodata yang memuat pendidikan dan pekerjaan kita, ini untuk menunjukkan kompetensi kita sebagai penulis. 

2. Alamat yang mudah dihubungi, scan ktp, foto, dan norek npwp (jika koran nasional)

Nah, itu teknik menulis opini yang disampaikan pada seminar kedua PerempuanBPSMenulis,
alhamdulillah terstruktur dan sangat operasional.

Semoga ke depan, semangat menulis bisa terus semakin meluas, aamiin...
Sebagai lembaga penghasil data, pelopor data statistik berkualitas untuk semua,
kita punya kesempatan lebih untuk menulis...

#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe-10

Senin, 19 Februari 2018

KSA dan Akurasi Data Pangan

Tulisan ini, diajukan ke dua media beberapa waktu lalu,
tapi masih belum rezeki dimuat di media cetak... jadi muat disini aja...  😉😉





Akurasi data pangan kembali dipertanyakan. Seperti mengulang nostalgia. Belakangan ini, beberapa media mewartakan kondisi carut marutnya data pangan di Indonesia. Terkadang ada pihak-pihak yang saling menyalahkan. Merasa paling benar, walau mungkin tujuannya benar.
Biasanya, ketika pemerintah mengumumkan akan melakukan impor suatu komoditas pangan, hal ini kembali mencuat.  Ketidakselarasan data produksi lah yang sering menjadi pencetus polemik.
Masih segar dalam ingatan kita, ketika data pangan dipertanyakan. Data produksi terkesan over estimate. Kenapa? Ketika pemerintah menyatakan stok pangan aman, cukup hingga beberapa bulan ke depan, kondisi di lapangan menunjukkan hal sebaliknya. Komoditas langka di pasaran. Harga pun melonjak tinggi. Setiap hari harga merangkak naik tak terkendali. Inisiatif importasi pun digelontorkan.
Bagaimana produksi pangan kita? Komoditas tanaman pangan di Indonesia meliputi padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kedelai, kacang tanah, dan kacang hijau. Statistik Indonesia menunjukkan data produksi padi pada tahun 2015 mencapai 75,36 juta ton dengan tingkat produktivitas 53,39 kuintal per hektar. Adapun jagung, yang juga menjadi makanan pokok bagi beberapa daerah di Indonesia pada tahun 2015 mampu mencapai produksi 19,61 juta ton. Hasil produksi keseluruhan tanaman pangan di Indonesia pada akhirnya mampu menciptakan nilai tambah bagi perekonomian. Pada tahun 2015, nilai tambah yang dihasilkan oleh tanaman pangan di Indonesia mencapai Rp 1.183,97 triliun dan berkontribusi sebesar 3,45 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Nilai tambah ini diantaranya dihitung berdasarkan data produksi tanaman pangan.
Selama ini data produksi  pangan tersebut berasal dari hasil angka ramalan Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementrian Pertanian. BPS bersama-sama dengan Kementrian Pertanian melakukan pengukuran produktivitas tanaman pangan melalui survey ubinan. Melalui survey ini diketahui rata-rata produktivitas dari komoditas tanaman pangan pada suatu wilayah. Untuk mengetahui jumlah produksi, maka rata-rata produktivitas tersebut dikalikan dengan luas panen. Adapun data luas panen diperoleh dari Kementrian Pertanian melalui petugas pengumpul data di lapangan berdasarkan metode konvensional pandangan mata atau “eye estimate” petugas. Hal inilah yang disinyalir tingkat akurasinya masih lemah.

Urgensi Data Pangan
Akurasi data yang lemah tentu menjadi persoalan. Ditengah upaya mencapai kemandirian pangan hal ini menjadi urgen. Apalagi bagi Indonesia dengan populasi yang semakin bertambah, ketepatan data pangan mutlak dibutuhkan. Kemandirian pangan rasanya sulit tercapai tanpa data yang akurat dan objektif. Artinya data tersebut secara tepat dan benar menggambarkan kondisi sebenarnya.  Perlu integrasi data dari berbagai stakeholders. Bukan data yang berserakan di berbagai kementrian, lembaga, unit teknis atau bahkan individu.
Data berintegritas diperlukan untuk menjamin kestabilan ketahanan pangan rakyat.
Disadari bersama bahwa keberhasilan pelaksanaan pembangunan ketahanan pangan sangat ditentukan perencanaan yang baik dan partisipasi berbagai pihak. Data dan informasi yang akurat dan tepat waktu sebagai dasar penetapan target dan tujuan yang ingin dicapai sangat diperlukan. Kesalahan data dan informasi tentunya mengakibatkan perencanaan yang dibuat tidak akan berguna atau bahkan merugikan pada tahap implementasi kebijakan. Maka dipandang perlu dan penting untuk melakukan perbaikan data pangan di Indonesia.

Kerangka Sampel Area (KSA)
Forum Masyarakat Statistik (FMS) bersurat kepada Presiden RI tanggal 31 Desember 2015 Nomor 25/FMS/12/2015  perihal Perbaikan Statistik Produksi Beras. Kemudian surat dari Kepala Staf Presiden RI kepada Kepala BPS RI tanggal 16 Juni 2016 Nomor B-68/KSK/06/2016 perihal Perluasan dan Percepatan Penerapan Metode Kerangka Sampel Area menjadi salah satu dasar dilaksanakannya KSA di Indonesia dan titik awal upaya perbaikan data pangan.
Dalam pelaksanaannya, BPS menggandeng Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).  Menurut Kepala BPPT kegiatan yang dilakukan merupakan teknologi inventarisasi untuk estimasi dan peramalan luas tanaman padi terutama luas panen yang didasarkan pada kaidah-kaidah ilmiah yang disebut sebagai sistem pendekatan “Kerangka Sampel Area (KSA)”. Sistem tersebut merupakan intergrasi dari beberapa disiplin ilmu pengetahuan, terutama Statistika, pertanian, teknologi remote sensing (GIS), GPS dan teknologi informasi.
KSA didefinisikan sebagai teknik pendekatan penyampelan yang menggunakan area lahan sebagai unit enumerasi. Sebagaimana disampaikan di atas bahwa sistem ini berbasis teknologi sistem informasi geografi (SIG), penginderaan jauh, teknologi informasi, dan statistika.
Saat ini setiap tujuh hari terakhir pada setiap bulan, seluruh insan BPS dari ujung barat hingga ujung timur Indonesia  sedang mengimplementasikan KSA. Unit statistik (statistical unit) yang menjadi sasaran kegiatan sampai ke level kecamatan, sedangkan obyek komoditas pertanian tanaman pangan yang sedang dilakukan adalah padi. Namun ke depan masih memungkinkan untuk pengembangan komoditas tanaman pangan yang lainnya.
KSA bertujuan untuk memperbaiki metode pengumpulan data menjadi lebih objektif dan modern dengan melibatkan teknologi di dalamnya, sehingga data yang dikumpulkan menjadi lebih akurat dan tepat waktu. Harapannya, pendekatan KSA mampu menjawab penyediaan data dan informasi yang akurat dan tepat waktu untuk mendukung perencanaan Program Ketahanan Pangan Nasional.
Upaya perbaikan data telah dilakukan. Perlu dukungan dan partisipasi. Tidak hanya BPS dan BPPT selaku penyedia teknologi, tapi semua pihak. Untuk data pangan berintegritas, mari berintegrasi. Untuk data pangan lebih baik.***


#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe-9

Sabtu, 17 Februari 2018

Indonesia di 2030 dan Middle Income Trap

Kata ayah, wah jauh banget menerawang nya....sampe 2030?



Hehe...nemu ini sepulang pelatihan, mampir gramedia...
Hasil pemikiran para Iluni FEB UI...

Sebenernya, nemu buku yg judulnya bikin kaget,...tp mau beli koq rasanya jadi deg degan, krn judulnya serasa bertentangan dg apa yg dikerjakan selama ini. Judul buku itu terkait PDB, tapi bukan Produk Domestik Bruto, melainkan Problem Domestik Bruto...ah kapan2 aja baca buku itu hehehe

Balik ke Indonesia di Tahun 2030, tebal buku ini sekitar 423 halaman, tapi saya baru sampe bbrp halaman awal saja melahapnya....

Di sambutan ketua Iluni FEB UI, disampaikan bahwa berdasarkan kajian PwC tahun 2017, Indoneaia berdasarkan Market Exchange Rate (MER) diproyeksikan pada tahun 2030 akan menjadi peringkat ke-9 PDB (yang ini Produk Domestik Bruto) terbesar di dunia atau peringkat ke-8 berdasarkan Purchasing Power Parity (PPP)....

Untuk mewujudkannya, kita harus memanfaatkan bonus demografi sekaligus memacu pertumbuhan ekonomi sehingga tidak terjebak dalam middle income.

Hasil survei Credit Suisse Global Wealth 2015 menunjukkan 45% kekayaan dunia hanya dinikmati oleh 0,7% penduduk dunia. Fenomena kesenjangan ini juga ditunjukkan melalui Gini Rasio yang dirilis BPS. Kesenjangan, terutama antar perdesaan dan perkotaan, antar pulau, dan antar kawasan (barat dan timur) masih terasa di Indonesia

Dalam RPJMN diungkapkan pentingnya mencapai pertumbuhan ekonomi diatas 7% setiap tahunnya....masih jauh dr harapan, karena di 2017 pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya mampu berada pada level  5,07%.

Bank Indonesia mengestimasikan agar Indonesia bisa keluar dari middle income trap, maka diperlukan pertumbuhan ekonomi minimal 6 - 10 % setiap tahunnya sebelum bonus demografi berakhir di 2030.

Perlu dicari sumber2 ekonomi baru. Sumber ekonomi baru yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia, hingga pada saat bonus demografi berakhir, kita bisa keluar dari "jebakan" middle income.

Middle Income Trap (MIT) adalah sebuah situasi yang dihadapi sebuah negara saat negara tersebut tidak mampu meningkatkan perekonomiannya menuju keranjang high income countries.
Negara – negara ini berada pada status negara berpendapatan menengah keatas. Ketidakmampuan untuk meningkatkan pendapatan per kapita disebabkan oleh banyak akibat, diantaranya adalah ketidakmampuan bersaing negara – negara ini dengan negara maju akibat kurangnya inovasi, modal manusia, dan kegiatan – kegiatan yang bernilai tambah lebih tinggi. Namun, di sisi lain kondisi perekonomian negara ini sudah lebih baik daripada negara sedang berkembang, masyarakatnya lebih sejahtera dan upah pun sudah lebih tinggi. Hal ini mengakibatkan negara yang berada diincome bracket high middle income bukan lagi tempat untuk investasi negara maju dengan alasan tenaga kerja yang murah.
Bank dunia mengklasifikasikan negara berdasarkan pendapatan per kapitanya.
Negara berpendapatan rendah : < US$1045
Negara berpendapatan menengah kebawah : US$1045<US$4125
Negara berpendapatan menegah keatas : US$4125 < US$12746
Negara berpendapatan tinggi : > US$12746
            Menurut Agenor dan Canuto (2012) penyebab sebuah negara terjebak dalam kondisi middle income trap karena strategi – strategi yang diterapkan oleh pemerintah tidak lagi efektif untuk mengakomodir pertumbuhan ekonomi. Sebuah negara dapat menghindari terjebak dalam kondisimiddle income trap dengan cara mengubah kebijakan pemerintah yang dinilai efektif pada tahap awal pembangunan negara.

Keluar dari jebakan middle income tadi, banyak hal yang perlu diwaspadai. Terutama terkait masih adanya ketimpangan antar individu, antar gender, antar wilayah, antar provinsi, antar pulau di Indonesia




......bersambung.....keburu ngantuk



#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikdanBahagia
#15haribercerita #HariKe8

Bandung (kembali) diguyur hujan

Bandung kembali diguyur hujan, siang ini dari lantai 5 gedung kantor,...... menikmati hujan yang derasnya luar biasa... kilat, petir, gel...