Kamis, 26 April 2012

Tujuh Sentra Industri Jadi Ciri Bandung 2013

Tujuh Sentra Industri Jadi Ciri Bandung 2013


BANDUNG, (PRLM).- Pemerintah Kota Bandung akan mengoptimalkan tujuh kawasan perindustrian dan perdagangan di Kota Bandung. Diharapkan tahun 2013, kawasan itu benar-benar menjadi industri kreatif yang merupakan ciri khas Kota Bandung.
Tujuh kawasan sentra industri perdagangan tersebut antara lain Sentra Industri Dan Perdagangan Rajutan Binongjati, Sentra Perdagangan Kain Cigondewah, Sentra Perdagangan Jeans Cihampelas, Sentra Industri Kaos Suci, Sentra Industri Sepatu Cibaduyut, Sentra Industri Tahu & Tempe Cibuntu dan terakhir Sentra Industri Boneka Sukamulya Sukajadi Kota Bandung.
Sekretaris Daerah Kota Bandung, DR. H. Edi Siswadi, M.Si., mengatakan, “Bisnis inti kita memang di industri kreatif dan KUKM, dari bisnis itulah yang membuat ekonomi kita tumbuh berkembang dan memberikan kontribusi terhadap lapangan pekerjaan, terhadap pendapatan perkapita dan peningkatan Pendapatan Asli Daerah. Ke depan tahun 2013 kita all out KUKM dan industri kreatif menjadi ikon bisnis kita dan bagian kebijakan kita,” katanya saat memberikan arahan dalam Rapat Koordinasi dan Evaluasi Program Revitalisasi 7 Sentra Industri dan Perdagangan Kota Bandung, di Auditorium Rosada, Jl. Wastukancana No.2, Selasa (6/3/12).
Menurut Edi, semua pihak pemerintah, stakeholder, dan pengusaha harus dimulai dari sekarang bergerak merumuskan, berpikiran sama bahwa rakyat Bandung bisa sejahtera ketika core bisnisnya ada kekuatan pendorong yang luar bisa. "Jangan sampai telat berpikir, telat merencanakan apalagi telat mengalokasikan dana, bisa-bisa mereka bangkrut, karena itu kita harus berpikir cepat, bertindak tepat, mengidentifikasi masalah dari hulu sampai hilir,” katanya. (A-113/A-88)***

Kamis, 19 April 2012

Tertarik Menjadi STATISTISI?

Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2012/2013

Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) – semula bernama Akademik Ilmu Statistik (AIS) – merupakan perguruan tinggi kedinasan yang diselenggarakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) sejak tahun 1958. STIS kembali memanggil pemuda/pemudi Indonesia yang memiliki motivasi tinggi untuk dididik menjadi ahli statistik.
STIS menyelenggarakan program Diploma IV (D-IV) yang diterapkan dengan sistem paket yang dinyatakan dalam Satuan Kredit Semester (SKS) dan ditempuh selama 4 tahun. STIS memiliki 2 jurusan, yaitu Statistika dan Komputasi Statistik, di mana jurusan Statistika terbagi menjadi 2 bidang peminatan, yaitu Statistika Ekonomi dan Statistika Sosial Kependudukan. Lulusan STIS mendapat sebutan Sarjana Sains Terapan (S.S.T.).
Tahun Akademik 2012/2013, STIS menerima mahasiswa baru melalui dua jalur umum, yaitu Jalur Umum Ikatan Dinas dan Jalur Umum Tugas Belajar Instansi Non BPS.

Informasi Sekolah Tinggi Ilmu Statistik

Gedung Baru STISSekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) – semula bernama Akademi Ilmu Statistik (AIS) – merupakan perguruan tinggi kedinasan program D-IV, yang dikelola oleh Badan Pusat Statistik (BPS) sejak tahun 1958. STIS mengemban visi menjadi lembaga pendidikan tinggi kedinasan yang berfungsi untuk mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang statistika dan komputasi statistik dengan mendidik kader yang memiliki kemampuan akademik/profesional. Dengan demikian lulusan STIS merupakan tenaga yang mampu merencanakan dan melaksanakan penelitian, melakukan analisis di bidang sosial-ekonomi serta merencanakan dan mengembangkan sistem informasi.
Kurikulum dibuat sesuai dengan perkembangan ilmu ekonomi, kependudukan, sosial, dan teknologi informasi. Proses dan metode pembelajaran ditekankan pada pengembangan ketrampilan di bidang statistik dan komputasi statistik. STIS mempunyai dua jurusan: Jurusan Statistika – dengan dua bidang peminatan, yaitu Ekonomi dan Sosial Kependudukan – dan Jurusan Komputasi Statistik. Jurusan Statistika menghasilkan tenaga ahli statistik ekonomi serta tenaga ahli statistik sosial-kependudukan, dan Jurusan Komputasi Statistik menghasilkan tenaga ahli komputasi dan sistem informasi.


Pendaftaran dilakukan secara online, ditutup tanggal 4 Mei 2012

informasi selengkapnya bisa lihat di link berikut ini :

INFORMASI PENERIMAAN MAHASISWA BARU STIS 2012 

atau
http://www.stis.ac.id

Rabu, 18 April 2012

Berubah, Kok Susah Ya?


Dini | Senin, 16 April 2012 | 10:58 WIB
Sungguh beda hasil yang didapat bila kita merencanakan perubahan, atau bila salah melakukan pendekatan.
KOMPAS.com - Dalam lingkungan kerja, di lingkungan keluarga atau kehidupan sehari-hari, kita kerap menuntut dan mengharapkan individu melakukan perubahan perilaku. Tidak terlihatnya perubahan, sangat potensial menjadi sumber konflik dan masalah, baik dalam organisasi maupun antar individu.
Seorang remaja berjanji dan membuat kesepakatan dengan orang tuanya, untuk segera mengabarkan keberadaannya, bila ia pulang terlambat atau terlalu larut. Remaja ini paham kekhawatiran orangtuanya, ia pun merasa tidak ingin membangkang, bahkan berjanji dalam hati untuk memperbaiki kebiasaannya. Kenyataannya, satu dua kali ia memang menjalankan kebiasaan barunya, namun sesudah itu ia kembali lagi pada kebiasaan lamanya. Orang tuanya tentu sangat kecewa.
”Ada apa dengan anakku ini? Apakah ia memang pembangkang? Diberitahu tidak bisa?" Padahal, kalau kita mencari "something wrong" pada anak ini, kita tak bisa menemukannya. Hanya saja, dia gagal berubah.

Kegagalan berubah begitu sering kita saksikan, atau bahkan kita alami sendiri. Perubahan dipandang sebagai proyek rumit, dan imajinasi mengenai perubahan dirasakan sebagai sesuatu yang besar, merusak kenyamanan dan tidak menyenangkan.  Padahal, tuntutan perubahan sebenarnya juga tidak selalu “besar-besaran”. Dari yang “tidak melaporkan”, menjadi “melaporkan”. Dari yang melanggar lampu merah menjadi berhenti saat lampu lalu lintas berubah kuning. Dari yang tidak senyum pada pelanggan, menjadi senyum dan menyapa pelanggan. Dari yang tidak menyegerakan follow up, menjadi bergegas untuk menuntaskan setiap tugas yang diterima. Kita sadar perubahan kebiasaan ditentukan adanya konsistensi dan “constant change”. Namun, banyak orang menerjemahkan kalimat “constant change” seolah-olah gubrag ke kiri gubrag ke kanan.

Perubahan konstan yang ideal adalah bila seseorang atau sebuah lembaga, terus bergerak maju, terus-menerus beradaptasi dengan perubahan lingkungan, terus menyesuaikan sistem-prosedur dan kebijakan sesuai tuntutan jaman, tetap tumbuh dan tidak jalan di tempat. Banyak orang mengerang dan mengeluh mengapa ada proyek perubahan. Padahal perubahan itu ada di dalam diri kita semua.
Manusia menikah, punya anak, pindah kerja, pindah kota, ganti HP, belajar teknologi baru, mencoba resep makanan baru dan pakai baju baru. Ini berarti bahwa kita perlu punya keyakinan bahwa kapasitas untuk berubah itu ada dalam diri kita masing-masing, dan bukan kapasitas yang istimewa.

Menghitung dan merencanakan perubahan

Banyak pimpinan perusahaan tidak segan untuk mengeluarkan banyak uang untuk membuat “Change Program”. Harapannya tentu saja segera bisa terjadi perubahan perilaku, suasana kerja dan budaya kerja, dari yang statis menjadi dinamis, dari yang lamban menjadi gesit, atau bahkan dari perusahaan lokal menjadi global.
Ketika seorang ahli ditanya mengenai persentase keberhasilan program perubahan yang "heboh" seperti ini, beliau menjawab tingkat keberhasilannya hanya 20 persen. Kita tentu jadi berpikir keras, bila 20 persen perubahan terjadi dengan upaya sebanyak ini, apakah program semacam ini “worth”? Namun, ahli tersebut menekankan juga bahwa bila program perubahan terus dikawal dan berhasil membangun suasana kondusif, perubahan bisa terjadi sampai 80 persen!
Kita lihat bahwa program perubahan memang perlu serius dan tidak bisa setengah hati. Sungguh beda hasil yang didapat bila kita merencanakan perubahan, atau bila salah melakukan pendekatan.

Bila dalam proses perubahan kita takut pada kontradiksi maka sebenarnya yang kita perlu lakukan adalah kesiapan terhadap kontradiksi. Kontradiksi antara semangat untuk berubah dan mengatasi perasaan yang menggandoli kebiasaan lama. Pimpinan tidak lagi bisa mengandalkan pendekatan yang analitis, tetapi justru perlu memikirkan secara metafora. Fokus pada future saja tidak cukup karena kita juga perlu secara jangka pendek berfokus pada suasana, langkah-langkah pendek dan kecil yang memang perlu dirancang untuk memudahkan perubahan.

Sikap dan emosi positif terhadap perubahan

Bagaikan kegembiraan memakai baju baru atau menempati rumah baru, sebetulnya hampir semua individu menyambut gembira perubahan. Demikian pula, pembaharuan atau inovasi di dalam tim dan organisasi. Kita pasti ingat antusiasme ketika pertama kalinya kita menggunakan ponsel. Kita pun pasti pernah juga mengalami ketika kita di tempat kerja tiba-tiba bisa melakukan komunikasi intranet. Perubahan memang positif, sehingga tidak ada alasan untuk melihatnya sebagai monster dan menghindarinya. Hanya saja, sikap positif dan keinginan untuk berubah saja memang tidak cukup. Proses komunikasi, kesiapan individu dan tim untuk menyerap informasi baru adalah hal yang kritikal.

Saat isu perubahan dicanangkan, sering kita lihat banyak orang membombardir individu dalam organisasi dengan presentasi-presentasi yang canggih, namun seolah tidak memikirkan daya tangkap audiens-nya. Padahal, individu tentunya lebih mudah menyerap informasi dalam bahasa yang lebih sederhana, dengan situasi yang lebih dekat dengan dirinya, sehingga ia bisa merasakannya dan kemudian membantunya melihat arah dan gambaran perubahan yang sangat jelas.
Kalau perusahaan mau berubah, akan berbentuk apa perusahaan itu? Kalau kita jelas-jelas mengatakan bahwa perusahaan yang tadinya perusahaan dagang, sekarang ingin dibentuk menjadi perusahaan yang berfokus pada “supply chain”, karyawan tentunya jadi bisa lebih punya bayangan tentang  bentuk perusahaan di masa mendatang. Bila rumah sakit yang tadinya sangat mengagung-agungkan dokter kemudian berubah berorientasi pada kebutuhan pasien, alias pelanggan, maka karyawan tentu harus sadar bahwa prosedur pemeriksaan pasien harus dibuat lebih mudah, bahkan cepat, lancar, dan terpecaya.

Hal yang perlu kita ingat adalah, perasaanlah yang menghambat perubahan, tetapi sebaliknya perasaan jugalah yang mendorong perubahan. Individu dalam organisasi tidak sulit berubah bila perasaannya tergelitik. Ini berarti informasi yang disampaikan untuk perubahan perlu sampai membentuk perasaan positif, sehingga memotivasi, membangun antusiasme, dan membuat individu lebih enteng untuk berpartisipasi dalam perubahan.

(Eileen Rachman/Sylvina Savitri, EXPERD Consultant)


Sumber: Kompas Cetak

Penduduk Hasil Sensus Penduduk 2010 Menurut Kabupaten dan Kelompok Umur

Penduduk Hasil SP2010 Menurut Kabupaten dan Kelompok Umur

Data Strategis BPS 2011


Data Strategis BPS 2011 memuat data statistik :

Angka Inflasi

Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan PDB Menurut Lapangan Usaha Tahun 2007–Semester I-2011
Struktur PDB Menurut Lapangan Usaha Tahun 2007–Semester I-2011
Pertumbuhan PDB Menurut Penggunaan Tahun 2007–Semester I-2011
Struktur PDB Menurut Penggunaan Tahun 2007–Semester I-2011
PDB dan Produk Nasional Bruto (PNB) Per Kapita Tahun 2007–2010

Statistik Ekspor Impor Barang

Ketenagakerjaan
Angkatan Kerja, Penduduk yang Bekerja, dan Angka Pengangguran
Lapangan Pekerjaan Utama
Status Pekerjaan Utama
Penduduk yang Bekerja dan Pengangguran Menurut Provinsi

Produksi Tanaman Pangan
Produksi Padi
Produksi Jagung
Produksi Kedelai

Pertumbuhan Produksi Industri Manufaktur
Pertumbuhan Produksi Industri Manufaktur Besar dan Sedang
Triwulanan (q-to-q) Tahun 2005–2011
Pertumbuhan Produksi Industri Manufaktur Besar dan Sedang
Triwulanan (y-on-y)
Pertumbuhan Produksi Industri Manufaktur Besar dan Sedang
Bulanan (m-to-m)

Kemiskinan
Perkembangan Tingkat Kemiskinan di Indonesia 1998–2011
Perkembangan Tingkat Kemiskinan Maret 2010–Maret 2011
Perubahan Garis Kemiskinan Maret 2010–Maret 2011
Indeks Kedalaman Kemiskinan dan Indeks Keparahan Kemiskinan

Penjelasan Teknis Statistik
Inflasi
Produk Domestik Bruto (PDB)
Ekspor-Impor Barang
Ketenagakerjaan
Produksi Tanaman Pangan
Pertumbuhan Produksi Industri Manufaktur
Kemiskinan


Untuk data selengkapnya, silahkan di link berikut :
Data Strategis BPS 2011
atau http://www.bps.go.id

Bandung (kembali) diguyur hujan

Bandung kembali diguyur hujan, siang ini dari lantai 5 gedung kantor,...... menikmati hujan yang derasnya luar biasa... kilat, petir, gel...