Jumat, 22 Agustus 2014
Statistik Daerah Kota Bandung Tahun 2013
melihat file secara lengkap : http://bandungkota.bps.go.id/publikasi/statistik-daerah-kota-bandung-tahun-2013
Statistik Daerah Kota Bandung Tahun 2013
Jumat, 08 Agustus 2014
Rabu, 25 September 2013
Momentum Membangun Bandung
Tidak terasa,
beberapa hari lagi Kota Bandung akan memasuki usianya yang ke-203 tahun. Ya,
hari jadi Kota Bandung sudah di depan mata.
Ada hal yang istimewa dalam perayaan hari jadi Kota Bandung tahun ini,
dimana masyarakat Kota Bandung memiliki walikota yang baru, setelah pesta
rakyat Kota Bandung beberapa bulan lalu memenangkan pasangan Ridwan Kamil –
Oded M Danial sebagai walikota dan wakil walikota Bandung periode 2013-2019.
Walikota `pemimpin` baru membawa segudang harapan
dari seluruh masyarakat untuk perubahan Kota Bandung ke arah yang lebih baik. Karena
disadari maupun tidak, keberhasilan proses pembangunan, di bidang apapun,
seringkali sangat tergantung dari pemimpin wilayah, selaku pemangku kebijakan
dan kewenangan di wilayah. Kiranya dengan terpilihnya pemimpin baru di Kota
Bandung akan menjadi awal bagi perbaikan kepemerintahan (governance) Kota Bandung
pada khususnya dan pembangunan masyarakat Kota Bandung pada umumnya di masa
mendatang. Seperti kita tahu bersama bahwa dari kepemerintahan Kota Bandung dengan
pemimpin sebelumnya, segudang prestasi pembangunan telah diraih, namun ternyata
masih menyisakan sejumlah persoalan yang harus dipikirkan, direncanakan,
dilaksanakan, diawasi, dan di evaluasi secara serius oleh pemimpin Kota Bandung
beserta jajarannya dengan
partisipasi masyarakat (swasta dan warga masyarakat) tentunya.
Partisipasi
dalam Kepemerintahan
Partisipasi
masyarakat menjadi penting dalam proses pembangunan khususnya ketika kita
selaku warga masyarakat meng-inginkan pola pemerintahan yang dijalankan oleh
pemerintah (government) adalah pola
kepemerintahan yang baik (good governance).
UNDP (United Nations Development Program) dalam dokumen kebijakannnya yang berjudul “Governance for Sustainable Human
Development, January 1997” menyebutkan bahwa terdapat tiga domain kelembagaan
dalam kepemerintahan, yaitu negara, sektor swasta, dan masyarakat yang saling berinteraksi dalam
menjalankan fungsinya masing-masing. Negara menciptakan lingkungan politik dan hukum
yang kondusif, ~sektor
swasta menciptakan lapangan pekerjaan dan pendapatan, ~adapun masyarakat
memfasilitasi interaksi sosial
dan politik, menggerakan kelompok dalam
masyarakat untuk berperan serta (berpartisipasi)
dalam
kegiatan ekonomi, sosial,
dan politik. Berdasarkan konsepsi
tersebut maka dalam menjalankan kepemerintahan, pemerintah tidak bisa dengan
segala kewenangannya berjalan sendiri, tetap diperlukan partisipasi dari
masyarakat.
Partisipasi
bukan hanya sekedar mengambil bagian atau pengikutsertaan saja tetapi lebih
dari itu, dimana dalam
partisipasi terkandung tiga gagasan pokok. Pertama
mental and emotional involvement,
adanya keterlibatan mental dan emosi. Kedua
motivation to contribute, yaitu
adanya dorongan untuk memberikan sumbangan. Ketiga acceptance
of responsibility, yaitu adanya penerimaan tanggung jawab. Diana Conyers seperti
dikutip Huraerah (2008 : 104) menyatakan ada tiga alasan utama mengapa partisipasi
masyarakat mempunyai sifat yang sangat penting. Pertama, partisipasi masyarakat merupakan suatu alat guna
memperoleh informasi mengenai kondisi, kebutuhan, dan sikap masyarakat
setempat, yang tanpa kehadirannya program pembangunan serta proyek-proyek akan
gagal. Satu-satunya cara agar berbagai informasi diperoleh hanyalah dengan
jalan melibatkan masyarakat setempat secara langsung dalam proses perencanaan. Kedua, bahwa masyarakat akan lebih
mempercayai program pembangunan jika merasa dilibatkan dalam proses perencanaan
dan persiapannya. Ketiga, yang
mendorong adanya partisipasi umum di banyak negara, karena timbul anggapan merupakan
suatu hak demokrasi jika masyarakat dilibatkan dalam pembangunan masyarakat
mereka sendiri. Hal ini selaras dengan konsep “men-centered development” dimana pembangunan dipusatkan kepada
kepentingan manusia, yaitu jenis pembangunan yang lebih diarahkan demi
perbaikan nasib manusia dan tidak sekedar sebagai alat pembangunan itu sendiri.
Todaro (dalam
Arsyad, 1999 : 5) mengemukakan bahwa keberhasilan pembangunan ekonomi
ditunjukan oleh tiga nilai pokok, yaitu ; (1) berkembangnya kemampuan
masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pokoknya (basic needs), (2) meningkatnya rasa harga diri (self-esteem) masyarakat sebagai manusia,
dan (3) meningkatnya kemampuan masyarakat untuk memilih (freedom from servitude) yang merupakan salah satu dari hak asasi
manusia.
Pembangunan
Ekonomi Kota Bandung
Prioritas pembangunan dalam beberapa tahun terakhir telah bergeser dari orientasi mengejar
angka pertumbuhan ekonomi menjadi pertumbuhan pembangunan manusia. Paradigma
pembangunan manusia menitikberatkan pada pemberdayaan
ekonomi dengan melibatkan partisipasi masyarakat secara
luas, yang pada akhirnya
diupayakan akan tercipta pemerataan pendapatan dan kesejahteraan.
Alat
ukur atau indikator yang biasa digunakan untuk mengukur pendapatan suatu
wilayah adalah nilai tambah yang
tercipta dari seluruh aktivitas ekonomi pada suatu wilayah. PDRB Kota Bandung pada
tahun 2011 atas dasar harga berlaku mencapai nilai 95,61 trilyun rupiah dan diperkirakan tahun
2012 meningkat hingga mencapai 111,12 trilyun rupiah. Besaran nilai PDRB ini
sebagian besar ditopang oleh besarnya nilai tambah bruto yang diciptakan oleh
sektor perdagangan, hotel, dan restoran, serta sektor industri pengolahan.
Berdasarkan
kajian yang dilakukan oleh BPS Kota Bandung dengan Dinas KUKM, Perindustrian
dan Perdagangan Kota Bandung tahun 2012, diketahui bahwa kelompok usaha mikro,
kecil dan menengah (UMKM) memberikan kontribusi sekitar 58,62 persen dari total
PDRB yang tercipta. Adapun sisanya sekitar 41,38 persen merupakan kontribusi
dari usaha besar. Jika dilihat memang kontribusi UMKM lebih besar dibandingkan
dengan kontribusi usaha besar di Kota Bandung. Namun hasil kajian menunjukkan
bahwa jika dihitung tingkat produktivitas dari masing-masing kelompok usaha,
maka tingkat produktivitas UMKM jauh lebih rendah dibandingkan dengan
produktivitas usaha besar. Dengan demikian maka terlihat bahwa di Kota Bandung,
besarnya kontribusi UMKM dalam penciptaan PDRB lebih dikarenakan jumlah unit
usahanya yang banyak (jauh lebih besar) dibandingkan dengan usaha besar, bukan
karena tingkat produktivitasnya, baik secara total maupun parsial, yang lebih
baik daripada usaha besar. Banyak faktor yang mengakibatkan kondisi seperti ini
terjadi, tidak hanya di Kota Bandung, namun hampir di semua wilayah di
Indonesia, bahkan di semua negara sedang berkembang. Tentu hal ini menjadi
salah satu pekerjaan rumah walikota Kota Bandung yang baru, bagaimana
meningkatkan kinerja dan produktivitas dari UMKM di Kota Bandung di tengah
berbagai kendala yang dihadapi oleh pelaku UMKM tersebut dalam menjalankan
usahanya.
Hasil kajian menunjukkan
bahwa sekitar 46,30 persen perusahaan/usaha yang menjadi sampel survei mengalami
kendala usaha. Kendala
utama yang dihadapi oleh pelaku UMKM di Kota Bandung (hasil survei UMKM tahun
2012) adalah : (1) permodalan, (2) pemasaran, (3) persaingan usaha, (4)
ketersediaan bahan baku, (5) kredit macet, (6) kondisi alam dan cuaca, (7)
sumber daya manusia (SDM), dan (8) kendala lainnya, seperti kondisi jalan dan
infrastruktur, birokrasi pemerintah dan permasalahan perijinan, serta lokasi
usaha yang tidak strategis.
Masalah permodalan masih menjadi kendala utama yang
dihadapi oleh pelaku UMKM. Terlihat sebagai kendala klasik. Namun inilah
kondisinya, masih banyak pelaku UMKM yang sulit mengakses berbagai skema
permbiayaan dan permodalan yang disodorkan oleh pihak perbank-kan maupun bantuan
pemerintah. Keterbatasan asset seringkali menjadi kendala sulitnya mengakses
permodalan. Kiranya disinilah koperasi dapat mengambil peran. Hasil survei
menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil pelaku UMKM yang memanfaatkan fasilitas
kredit atau bantuan modal dari koperasi. Koperasi memiliki peluang untuk
berkolaborasi dengan UMKM. Hasil penelitian Fajri (2007) yang juga dikutip Tambunan (2009), untuk kasus
Indonesia (demikian halnya Kota Bandung), sebetulnya koperasi mempunyai masa
depan yang baik, khususnya dalam upaya pengembangan UMKM. Namun perlu berbagai
upaya agar implementasinya lebih mudah dilakukan, dan koperasi perlu mencontoh
implementasi Good Corporate Governance
(GCG) seperti yang diterapkan oleh perusahaan swasta. Yang perlu
diperhatikan adalah : (1) perlu memastikan bahwa tujuan pendirian koperasi
adalah untuk mensejahterakan anggota, (2) perlu perbaikan secara menyeluruh,
dari berbagai pihak agar dalam kegiatan operasinya koperasi dapat beroperasi
secara professional, efektif, dan efisien, serta (3) perlu adanya pembenahan
dalam internal koperasi.
Mengatasi berbagai kendala yang dihadapi termasuk sulitnya mengakses
permodalan, tentu saja pelaku UMKM tidak dapat berjalan sendirian, perlu
dukungan dan dorongan dari berbagai pihak, terutama pemerintah selaku penentu
kebijakan. Sekali lagi, partisipasi dan keterlibatan berbagai pihak dalam
mengatasi persoalan yang dihadapi UMKM menjadi penentu keberlangsungan UMKM
Kota Bandung masa mendatang.
Mengapa hal ini menjadi
penting, karena berdasarkan pengalaman terdahulu, ketika negara kita beberapa
kali dilanda krisis ekonomi maupun moneter, UMKM telah mampu membuktikan
ketangguhannya di tengah hantaman krisis ekonomi, dimana UMKM mampu bertahan
dan berkembang dengan cukup baik. (BPS, 2008). Hasil kajian BPS Provinsi Jawa
Barat (2011) menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen jumlah unit usaha di Jawa
Barat adalah UMKM, yang menyerap lebih dari 80 persen tenaga kerja. Oleh karena
itu pemberdayaan UMKM sangat strategis dikarenakan potensinya yang besar dalam menggerakkan
kegiatan ekonomi masyarakat, sekaligus menjadi tumpuan sumber pendapatan
sebagian besar masyarakat dalam
meningkatkan kesejahteraannya, khususnya masyarakat di daerah.
Semoga dengan dilantiknya Walikota Bandung di bulan yang sama dengan
hari jadi Kota Bandung ke-203 tahun ini, menjadi momentum awal untuk bekerja
lebih keras dan cerdas dalam membangun Kota Bandung. Bekerja berbasis data dan
kebutuhan (bukan proyek semata). Libatkan masyarakat di dalamnya. Bagaimanapun,
ketika masyarakat dilibatkan, maka tingkat kepedulian lebih tinggi dan masyarakat
akan lebih merasa memiliki Kota Bandung.
Selamat bekerja dan mengemban
amanah masyarakat, Walikota dan Wakil Walikota Bandung periode 2013-2019.
Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa memberkahi. Selamat memanfaatkan
momentum.***
Dimuat di HU Pikiran Rakyat, September 2013
Sabtu, 11 Mei 2013
Sensus dan Masa Depan Pertanian
Fenomena
kenaikan harga beberapa komoditas hasil pertanian seperti daging sapi, bawang
merah, bawang putih, dan cabe merah beberapa waktu lalu cukup menyita perhatian
hampir seluruh lapisan masyarakat. Bagaimana tidak, diawali dengan kelangkaan
komoditas tersebut di pasar, dilanjutkan dengan melonjaknya harga hingga
berkali-kali lipat hanya dalam hitungan hari. Biasanya, fenomena inflasi (-kenaikan harga umum secara
terus-menerus) ini terjadi ketika menjelang hari raya dimana jumlah permintaan
lebih tinggi dari biasanya (selain psikologis hari raya dimana harga kebutuhan
pokok menjadi naik). Namun dalam beberapa bulan terakhir ini terjadi lonjakan
yang sangat tinggi terutama sub kelompok komoditas daging (daging sapi di akhir
hingga awal tahun) dan sub kelompok komoidas bumbu-bumbuan (bawang merah, bawang
putih, dan cabe merah).Ya, andil kelompok komoditas bahan makanan dalam
menyumbang inflasi cukup besar dibandingkan komoditas pembentuk inflasi yang
lain. Tren pergerakan kenaikan harga
kelompok bahan makanan jika dibandingkan dengan kelompok umum (rata-rata komoditas
pembentuk inflasi) dapat dilihat pada grafik 1.
Banyak
ahli mensinyalir bahwa kenaikan harga yang sangat tinggi pada beberapa
komoditas ini sebagai dampak dari adanya pembatasan impor terhadap 20 komoditas
hasil pertanian. Kebijakan pemerintah ini dinilai beberapa kalangan “kurang
tepat” untuk dilakukan saat ini sehingga menimbulkan gejolak harga di
masyarakat. Ketika kebijakan kembali “disalahkan”, seringkali pemerintah pun
“mengalah” dengan kembali membuka keran impor beberapa komoditas hasil
pertanian, walaupun harga tidak serta- merta
turun. Kebijakan impor pun kembali “dinilai” kurang tepat, ketika
produksi nasional melimpah, seperti halnya pada musim panen.
Kondisi
seperti ini kiranya tidak akan terjadi jika kebijakan yang diambil berdasarkan
pada data yang akurat. Secara sederhana, ketika diketahui berapa jumlah
produksi nasional dan berapa kebutuhan konsumsi suatu komoditas (baik konsumsi
industri maupun konsumsi masyarakat) maka dapat ditentukan berapa besaran impor
untuk pemenuhan konsumsi komoditas tersebut, disamping tetap memperhatikan
kapan masa panen dan perencanaan masa tanam. Namun tentu saja ternyata untuk
memperoleh data yang akurat tidak sesederhana itu. Perlu proses dan mekanisme,
sehingga data yang akurat dan valid sesuai kondisi lapangan dapat diperoleh.
Salah satu basis data pertanian yang komprehensif dengan skala nasional dan
mencakup semua kegiatan pertanian adalah data hasil sensus pertanian. Sensus
pertanian di Indonesia yang dilaksanakan setiap sepuluh tahun sekali pada tahun
berakhiran 3 (tiga) diharapkan dapat memberikan gambaran secara aktual mengenai
kondisi pertanian di Indonesia. Hasil sensus ini diharapkan dapat menjadi basis data dalam perencanaan
pembangunan pertanian di masa mendatang.
Sensus Pertanian 2013
Sensus
Pertanian 2013 atau biasa disingkat menjadi ST2013 di Indonesia dilaksanakan
oleh Badan Pusat Statistik (BPS) sesuai dengan amanah Undang-Undang Nomor 16
Tahun 1997 tentang Statistik. Sensus pertanian pertama kali dilaksanakan pada
tahun 1963 dan tahun ini adalah pelaksanaan sensus pertanian yang keenam. Tahun
ini, yaitu pada bulan Mei 2013 adalah puncak dari kegiatan sensus pertanian di
Indonesia dimana akan dilakukan pencacahan lengkap seluruh usaha pertanian. Yang
dicakup dalam ST2013 kali ini adalah seluruh sektor pertanian, yaitu : (1)
tanaman pangan, (2) hortikultura, (3) perkebunan, (4) peternakan, (5)
perikanan, dan (6) kehutanan.
Pencacahan (pendataan)
ST2013 mencakup seluruh usaha pertanian, baik pada rumah tangga
biasa, perusahaan berbadan hukum, maupun selain rumah tangga biasa dan selain
perusahaan berbadan hukum (seperti: usaha pertanian di pesantren/seminari,
lembaga pemasyarakatan, barak militer, dan Unit Pelaksana Teknis (UPT)). Pencacahan dilakukan secara nasional di
seluruh wilayah Indonesia, sehingga data yang dihasilkan bersifat
komprehensif. Tahapan yang dilakukan
pada puncak kegiatan bulan Mei 2013 ini adalah tahap pemutakhiran dan
pencacahan lengkap. Adapun tahan selanjutnya seperti survei pendapatan rumah
tangga pertanian dan survei sub sektor dilaksanakan pada bulan November 2013
dan tahun 2014. Adapun metodologi pencacahan dilakukan secara door to door untuk wilayah konsentrasi
(potensi rumah tangga pertanian berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2010) dan snowball
untuk wilayah yang non konsentrasi. Berdasarkan kedua metodologi pencacahan
ini maka gambaran kondisi pertanian di Indonesia secara aktual dapat diperoleh.
Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa melalui
kegiatan sensus pertanian dapat diperoleh gambaran aktual mengenai kondisi
pertanian di Indonesia. Adapun secara umum tujuan dilaksanakannya ST2013 adalah
: (1) mendapatkan data statistik pertanian yang lengkap dan
akurat supaya diperoleh gambaran yang jelas tentang pertanian di Indonesia, (2) mendapatkan kerangka sampel (sampling frame) yang dapat dijadikan
landasan pengambilan sampel untuk survei-survei di sektor pertanian, (3) memperoleh berbagai informasi tentang
populasi usaha pertanian, rumah tangga petani gurem, jumlah pohon dan ternak,
distribusi penguasaan dan pengusahaan lahan menurut golongan luas, dan
sebagainya, (4) hasil pencacahan lengkap
ST2013 juga akan digunakan sebagai angka patokan (benchmarks) untuk
survei-survei di sektor pertanian.
Ya, tidak hanya
gambaran yang lengkap dan jelas mengenai kondisi pertanian di Indonesia,
melalui sensus ini dapat diperoleh informasi penting terkait data-data dasar
bagi perencanaan kebijakan pertanian. Informasi populasi usaha pertanian,
dengan diketahuinya berapa populasi usaha pertanian yang mencakup seluruh
sektor pertanian maka kita dapat mengetahui berapa kemampuan produksi nasional, selain jumlah populasi usahanya. Berdasarkan
data ini, ke depannya dapat diketahui sektor pertanian mana yang produksinya
(melalui populasi unit usaha) dapat mencukupi kebutuhan nasional, sektor mana
yang harus disupply dari luar negeri
untuk pemenuhan konsumsi masyarakat, dan
sektor pertanian mana yang tingkat produksinya melebihi kebutuhan konsumsi
masyarakat sehingga dapat di ekspor ke luar negeri. Seperti halnya ketika impor
dibatasi untuk komoditas bawang merah dan bawang putih yang beberapa bulan
terakhir mengalami inflasi cukup tinggi, apakah sebetulnya jumlah usaha tani
bawang merah dan bawang putih dengan tingkat produksinya mampu memenuhi
kebutuhan konsumsi nasional?
Kemudian informasi rumah tangga petani gurem,
melalui data ini kiranya kebijakan dan program pemerintah terkait upaya
pengentasan kemiskinan melalui peningkatkan kemampuan ekonomi dan pemberdayaan
petani gurem dapat lebih tepat sasaran. Hal ini penting untuk dilakukan karena
jumlah rumah tangga petani gurem yang cenderung meningkat, dimana petani gurem
yang menguasai/mengerjakan lahan yang
relatif sempit, cenderung miskin, karena biasanya usaha tani yang dijalankannya
berada di bawah skala ekonomi, tidak mampu bersaing dengan produk luar,
sehingga pendapatan rumah tangganya pun berada di bawah rata-rata. Padahal
sejarah menunjukkan bahwa sektor pertanian memiliki arti strategis dalam
perekonomian Indonesia. Maka, data rumah tangga petani gurem menjadi strategis
pula untuk perencanaan kebijakan pertanian masa mendatang dalam upaya peningkatan
ekonomi masyarakat.
Informasi jumlah pohon
dan ternak. Informasi jumlah pohon, baik komoditas
sektor hortikultura, perkebunan, maupun kehutanan penting untuk mengetahui
kemampuan produksi nasional terhadap komoditas-komoditas tersebut. Misalnya, salah
satu komoditas hortikultura adalah buah-buahan, dengan diketahui berapa jumlah
pohon buah-buahan yang ada, berapa jumlah pohon yang sudah berproduksi, berapa
yang belum berproduksi maka tingkat produksi nasional dapat diperoleh. Maka
ketika dikaitkan dengan tingkat konsumsi masyarakat akan komoditas buah-buahan
ini kiranya penentuan kebijakan pembatasan impor apakah perlu untuk dilakukan. Demikian
halnya ketika akhir tahun lalu terjadi lonjakan harga yang cukup tinggi pada
komoditas daging sapi, kembali dipertanyakan sebetulnya berapa kemampuan
produksi daging sapi nasional, berapa jumlah ternak yang ada, sehingga konsumsi
masyarakat dapat terpenuhi.
Uraian
di atas adalah hanya sebagian kecil manfaat yang dapat diperoleh dari
pelaksanaan sensus pertanian tahun ini. Tentu, pelaksanaan sensus pertanian
2013 ini tidak mudah. Hal ini merupakan tugas berat bagi BPS selaku badan yang
berkewajiban melaksanakan sensus sesuai Undang-Undang. Kredibilitas BPS selaku
pelopor data statistik terpercaya untuk semua kembali dipertaruhkan. Perlu
kerja keras dan kerja sama dari berbagai pihak. Tidak hanya pegawai organik
BPS, petugas pencacah di lapangan, namun juga perlu dukungan dan partisipasi
dari seluruh stakeholders yang ada,
baik pemerintah, tokoh masyarakat, dan tentu saja pelaku usaha pertanian itu
sendiri. Dukungan dari pelaku usaha pertanian, baik rumah tangga pertanian,
perusahaan berbadan hukum, pesantren, asrama, lembaga yang mengelola usaha
pertanian, sangat menentukan keberhasilan pelaksanaan ST2013 di Indonesia.
Dukungan dengan memberikan jawaban yang sebenarnya terkait dengan usaha
pertanian yang dilakukan akan mendukung dalam upaya diperolehnya data statistik
pertanian yang akurat. Data statistik
pertanian yang akurat menentukan keberhasilan pembangunan pertanian di masa
mendatang.
Mari
kita dukung Sensus Pertanian 2013 untuk masa depan bangsa. Anda pengelola usaha
pertanian? Pastikan Anda Dihitung!!
Dimuat di HU Pikiran Rakyat, 11 Mei 2013
Bandung (kembali) diguyur hujan
Bandung kembali diguyur hujan, siang ini dari lantai 5 gedung kantor,...... menikmati hujan yang derasnya luar biasa... kilat, petir, gel...
-
Capaian kinerja perekonomian Kota Bandung dapat dinilai melalui berbagai indikator capaian. Salah satu indikator yang biasa diguna...
-
Senin pagi, seperti biasanya jalanan menuju kantor cukup padat...sepadat aktivitas di hari ini sesampai di kantor mulai riweuh mempersiapk...
-
Kamis, 1 Februari 2018 "Keriweuhan" ini sebetulnya dimulai sehari sebelumnya, ketika tetiba di waktu yang hampir bersam...
